Seberapa Ramah Industri Desain Indonesia?

Sejak tahun 1995, International Council of Design (ICoD) merayakan International Design Day setiap tanggal 27 April sebagai bentuk pengingat terbentuknya ICoD. Tahun ini “Is It Kind?” menjadi tema utama sebagai upaya membentuk kebaikan dalam praktik desain. 

Merespon tema tersebut, Geometry ingin melihat sudut pandang pekerja kreatif perempuan di tengah industri yang didominasi laki-laki. Hal ini merupakan sebuah fakta yang tidak bisa ditutupi, mengutip dari sebuah penelitian, desainer perempuan sering diasosiasikan dengan desain perhiasan, rajutan, sulaman, ilustrasi grafis, keramik dan pembuatan pakaian, sedangkan desainer laki-laki dihubungkan dengan desain-desain yang bersifat industri dan publik.

Desainer maupun ilustrator perempuan kerap terhambat oleh konstruksi sosial yang masih mengutamakan laki-laki sebagai pekerja, pembagian kerja domestik, latar belakang pendidikan, hingga pandangan terhadap karya-karya perempuan yang dianggap terlalu feminin. 

Dinda Puspitasari

Dinda Puspitasari datang dari latar pendidikan advertising, kemudian memulai karirnya sebagai Account Executive (AE) untuk sebuah agency selama 3 tahun. Sejak 2008, Dinda juga sudah memiliki personal blog untuk mengarsip karya-karyanya.

Untungnya, ilmu bekerja sebagai AE membuat Dinda memiliki poin lebih saat terjun ke industri. Saat menjalin hubungan dengan para klien, Dinda mengetahui key points apa saja untuk menggaet klien. Bahkan, tak sedikit klien yang akhirnya mengetahui kemampuan Dinda dalam menggambar. Saat memutuskan resign dari agency, dan pada 2015 memulai karir sebagai full-time ilustrator, Dinda bisa membawa koneksinya menjadi klien.

Di awal karir, Dinda pun sempat merasakan kesulitan dalam melihat arah sebagai ilustrator. Namun, terlepas dari itu, Dinda mengubah pertanyaan-pertanyaannya menjadi sebuah kesempatan untuk membentuk karakternya sendiri—Dinda Puspitasari Studio.

“Mungkin kalau orang-orang yang kuliah desain atau ilustrasi gitu mungkin mereka ada arahan yang lebih jelas atau kayak bisa magang di sini, di sini, di sini,  gitu. Sedangkan kalau aku kayak mikir dulu gitu ‘Oh ini ke mana ya? Karirnya apa ya step-nya? Habis ini ngapain ya?’ Gitu jadi karena aku nggak punya background itu jadi awalnya lumayan bingung,” ungkap Dinda pada Geometry

Kini kolam kolaborasi semakin luas, kesempatan semakin banyak dan beragam. Sayangnya, pada perjalanan karirnya yang memasuki usia sembilan tahun, Dinda masih kerap bertemu klien yang memintanya untuk mengubah tone warna atau  karakter gambar agar tidak terlalu “feminin”. Dinda memahami bahwa dalam berkolaborasi, idealismenya sebagai seorang ilustrator tidak boleh selalu menonjol, namun ia kembali menerangkan bahwa ia memiliki karakter dalam ilustrasi yang menjadi ciri khas seorang Dinda Puspitasari. 

“Terkadang ada yang ‘Dinda desainnya dan ilustrasinya terlalu colorful ya, terlalu cute’  terus aku juga bilang lagi aku memang seperti itu style dan aku pengen signature aku yang dikenal. Terus sampai detik ini pun baru bulan lalu kayak ‘itu terlalu colorful ya boleh nggak sih di  tone down  sedikit’,” jelasnya.

Dinda juga mulai menyisipkan representasi perempuan yang lebih beragam, seperti warna kulit, bentuk tubuh, hingga penggunaan hijab dalam gambar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. 

Selain representasi dalam karya-karyanya, Dinda mengungkapkan bahwa peran individu yang kolaboratif sangatlah penting. Berangkat dari kesulitannya untuk bersosialisasi, Dinda mengaminkan pentingnya keterlibatan yang dapat membentuk diskusi-diskusi antar ilustrator maupun individu dalam industri kreatif. Hal ini dapat memperluas kesempatan untuk berkolaborasi satu dengan lainnya.

Astri Purnamasari

Sedikit berbeda dengan Dinda, selama 8 tahun berada dalam industri kreatif sebagai desainer grafis, Astri Purnamasari (Co-founder Cipsi Studio dan Cipsi Craff) mengungkapkan bahwa waktu menjadi tantangan tersendiri baginya.  Kehadiran Cipsi Studio tak lepas dari siasat melawan jam kerja industri kreatif yang kerap ‘terbalik-balik’ dan seakan tak pernah sejalan dengan keinginannya untuk bisa berkarir namun juga tetap bisa menjalankan peran sebagai seorang ibu. 

“Ini studio adalah siasat antara aku dan partnerku. dulu mikirnya Gimana caranya buat ‘tetap berkarir di desain grafis tapi juga gak ngelupain untuk jalanin peran ibu dan istri gitu’. Karena kalau misalkan aku tetap jadi freelance desainer grafis dan sembari ngurus anak gitu, itu tuh aku rasa bakal bentrok waktunya. Ya kita tahu sendiri di industri kreatif tuh waktu kerjanya sangat ruwet gitu,” tutur Astri pada Geometry.

Walau waktu menjadi salah satu hal yang masih sulit ditawar, kehadiran desainer-desainer perempuan menjadi suatu hal yang dirindukan. Dalam 2-3 tahun terakhir, Astri melihat bagaimana desainer perempuan yang mulai memancarkan karakter dalam karyanya tanpa negosiasi dengan  berani. Astri juga menambahkan bagaimana perempuan sebagai pemilik studio kreatif mulai bermunculan.

“2 sampai 3 tahun terakhir tuh banyak teman-teman desainer perempuan yang udah mulai ngeliatin bahwa ‘karakter gue kayak gini nih’,  kadang-kadang ada satu studio yang dia bisa ‘gue jual karya gue dengan karakter gini, klien mau atau nggak?’ nah bagian itu udah bisa buat muncul di desain grafis perempuan gitu,” terang Astri.

Astri sebagai ibu berharap bahwa industri kreatif bisa lebih memberikan waktu yang fleksibel bagi para ibu yang masih ingin bekerja—terlebih bila bekerja pada sebuah perusahaan/studio milik orang lain. Ia juga berharap kalau bisa semakin banyak kesempatan yang diberikan pada para desainer perempuan. Toh, kemampuan perempuan dalam multi-tasking dan detail oriented menjadi nilai plus dalam menggarap sebuah project.

Astri juga menambahkan, bagaimana stigma bahwa hasil karya dari desainer perempuan dan laki-laki dianggap berbeda harus disudahkan. Sebab bagi Astri, desain grafis tidak berbicara tentang gender, namun tentang karyanya sehingga hasil  desainer perempuan tidak memiliki perbedaan dengan karya desainer laki-laki.

Sudahkah Industri Desain Ramah Bagi Perempuan?

Representasi perempuan baik dalam pengkaryaan maupun peranan pada industri desain menunjukkan adanya perubahan yang positif. Kendati demikian, kesulitan yang dihadapi perempuan dalam industri kreatif bisa beragam; mulai dari menemukan rekan diskusi hingga jam kerja yang tidak menentu dan membuat perempuan menghadapi tantangan untuk tetap memenuhi tanggung jawab dalam pekerjaan dan memenuhi peran dalam keluarga.

Masih banyak ruang untuk menjadi lebih baik, tantangan-tantagan ini menjadi tugas bersama setiap individu untuk menciptakan  industri yang lebih ramah bagi perempuan. Dukungan akan keterlibatan, peluang, dan akses bagi perempuan menjadi kunci agar industri desain semakin inklusif dan kolaboratif. 

Previous
Previous

Bikin Presentasimu Jadi Menarik Biar Audiens Ngelirik!

Next
Next

Sensasi Kuliner Vietnam Autentik: Pho Thin Buka Cabang Baru di Jakarta!